Table of Contents
Table of Contents

Deadweight Loss Adalah: Pengertian, Jenis, hingga Cara Menghitungnya

deadweight loss adalah

Pada dasarnya, deadweight loss adalah hilangnya efisiensi ekonomi yang menghambat kelancaran dalam sebuah bisnis.

Hal ini terjadi ketika suatu bisnis kehilangan pasar atau konsumen potensial karena perubahan harga dan beberapa faktor lainnya.

Hal ini menyatakan bahwa suatu bisnis tidak mencapai keseimbangan secara finansial karena tingkat penjualan yang terbilang rendah.

Untuk itu, artikel dari RedERP berikut ini akan membantu Anda menjelaskan mengenai pengertian, bentuk, penyebab serta rumusnya.

Simak ulasannya berikut ini ya!

 

 

Apa Itu Deadweight Loss?

Deadweight loss adalah hilangnya efisiensi ekonomi yang terjadi karena tidak adanya titik temu antara permintaan dengan penawaran, baik pada produsen maupun konsumen.

Hal ini sering kali terjadi karena inefisiensi pada pasar, contohnya permintaan dari konsumen tidak seimbang dengan penawaran produsen.

Sederhananya, kerugian tersebut diakibatkan oleh distorsi ekonomi sehingga pendapatan produsen menjadi terlalu rendah, sedangkan pengeluaran konsumen menjadi semakin besar.

Jadi, produsen tidak dapat memenuhi kebutuhan konsumen dan konsumen pun tidak dapat terpenuhi kebutuhannya.

Kerugian deadweight loss biasanya digambarkan dalam bentuk segitiga yang sering disebut dengan harberger triangle. Kerugian ini biasa juga disebut dengan kerugian bobot mati.

 

Jenis Deadweight Loss

Setelah mengetahui pengertiannya, maka selanjutnya Anda perlu mengetahui seperti apa bentuknya.

Setidaknya ada dua bentuk kerugian bobot mati yang umumnya terjadi, antara lain:

 

1. Undervaluation Product 

Undervaluation product atau produk bernilai terlalu rendah jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia adalah bentuk pertama dari deadweight loss.

Bentuk ini akan membuat sebuah produk menjadi tidak bernilai karena perusahaan tidak memiliki cukup biaya untuk melakukan produksi.

Barang yang diproduksi memiliki sedikit atau bahkan sama sekali tidak ada keuntungan.

Jika mengalami hal ini, perusahaan biasanya melakukan beberapa strategi.

Strategi tersebut misalnya menjual produk dengan harga yang lebih tinggi agar perusahaan mendapatkan keuntungan atau berhenti memproduksi produk yang spesifik. 

 

2. Overvaluation Product

Bentuk yang kedua adalah kebalikan dari undervaluation product.

Baik undervaluation ataupun overvaluation product, keduanya sama-sama memiliki dampak negatif

Overvaluation product adalah produk yang bernilai terlalu tinggi.

Hal ini mengakibatkan para konsumen akan berpikir dua kali untuk membeli produk tersebut. 

Produk yang bernilai terlalu tinggi akan memungkinkan konsumen untuk mengurangi pembelian produk karena mereka menilai produk tersebut terlalu sulit untuk dijangkau.

Mereka akan cenderung mencari produk yang sejenis dengan harga yang lebih murah.

 

Penyebab Deadweight Loss

deadweight loss adalah
Ada banyak penyebab deadweight loss.

 

Jika konsumen merasa nilai barang tidak sebanding dengan biaya yang mereka keluarkan, biasanya konsumen tidak akan membeli suatu produk tersebut.

Pada akhirnya, muncul kerugian yang dinamakan kerugian bobot mati.

Untuk itu, adapun beberapa penyebabnya adalah sebagai berikut:

 

1. Surplus Produk

Dalam kondisi pasar yang tak menentu, terkadang jumlah produk yang tersedia di pasar melebihi permintaan konsumen. Kondisi ini dinamakan dengan surplus.

Ketika surplus terjadi, potensi jual beli menjadi hilang karena konsumen tidak membutuhkan produk tersebut.

 

2. Defisit Produk

Sebaliknya, apabila jumlah produk lebih sedikit dibandingkan dengan permintaan pasar, maka akan terjadi defisit produk.

Hal ini juga akan membuat potensi jual beli menjadi hilang.

 

3. Kebijakan Pajak

Apabila pemerintah menetapkan pajak yang terlalu tinggi pada suatu barang, maka harga jual produk akan meningkat.

Hal ini juga bisa menyebabkan kerugian bobot mati karena potensi jual beli menjadi hilang.

 

4. Monopoli

Deadweight loss pada pasar monopoli disebabkan oleh konsumen yang merasa tidak sebandingnya nilai produk dan biaya yang dikeluarkan.

Mereka pun pada akhirnya membatalkan pembelian.

 

Cara Menghitung Deadweight Loss

Mungkin Anda bertanya, bagaimana cara menghitung deadweight loss yang baik dan benar?

Nah, berikut adalah penjelasan tentang cara menghitungnya.

Namun sebelum itu, Anda perlu mengetahui unsur-unsur saat menghitung deadweight loss terlebih dahulu.

Ada empat yang perlu Anda ketahui pada saat melakukan perhitungan kerugian bobot mati, yaitu harga asli, harga setelah terdistorsi, jumlah permintaan asli, dan jumlah permintaan setelah harga terdistorsi. 

 

Rumus deadweight loss:

 

Deadweight loss = ½ X ((Pn – Po) x (Qo – Qn)) 

 

Dengan keterangan:

  • Pn: Harga terdistorsi, seperti pajak atau terdampak penetapan harga tertinggi
  • Po: Harga asli
  • Qn: Jumlah permintaan setelah terdampak pajak atau penetapan harga tertinggi
  • Qo: Jumlah permintaan asli

 

Baca Juga: Cara Menentukan Harga Jual Barang Efektif agar Untung Maksimal

 

Contoh Deadweight Loss

Dengan hanya membaca rumus, Anda mungkin saja tidak terlalu memahami cara menghitung kerugian bobot mati.

Oleh karena itu, agar lebih memahami cara menghitungnya, artikel RedERP sudah menyiapkan contoh soalnya untuk Anda di bawah ini.

 

Anggap saja Anda sedang mengadakan acara konser Slank dengan harga tiket sebesar Rp200 ribu. Namun, karena adanya pengisi acara tambahan, konser tersebut terpaksa menaikkan harga tiketnya dengan total harga menjadi Rp250 ribu. 

Sebelum Anda menaikkan harga tiket, Anda sudah menjual sekitar 50 tiket kepada penonton. Sementara itu, penjualan tiket turun menjadi 20 tiket setelah adanya kenaikan harga. Lantas berapa kerugian bobot matinya?

 

Deadweight loss = ½ X ((Pn – Po) x (Qo – Qn)) 

= ½  X ((Rp250.000 – Rp200.000) X (50-20))

= ½ X (Rp50.000 X 30) 

Deadweight loss =Rp750.000

 

Maka, kerugian bobot mati yang diperoleh setelah menaikkan harga tiket konser Slank sebesar Rp750 ribu rupiah.

 

Software Akuntansi RedERP Bantu Perusahaan Tentukan Langkah Deadweight Loss

 

Software ERP
Software ERP

 

Deadweight loss memang harus dihitung dengan akurat agar perusahaan bisa mengetahui kerugian yang diterima dan hal rugian yang diterima dan hal yang harus diperbaiki.

Hal ini bertujuan untuk menyelaraskan tujuan bisnis agar tetap bisa bersaing di pasar.

Namun, perhitungan deadweight loss secara manual akan rentan pada kesalahan-kesalahan.

Bisa jadi perhitungan secara manual akan menyebabkan tidak akuratnya nilai deadweight loss yang merugikan perusahaan. 

Oleh sebab itu, perhitungan deadweight loss harus dikelola dengan tepat dan akurat.

Solusi terbaiknya adalah dengan menggunakan Software Akuntansi RedERP yang akan membantu perusahaan dalam menentukan langkah demi langkah deadweight loss

Terdapat fitur-fitur menarik dari Software Akuntansi RedERP yang dapat membantu perusahaan dalam melakukan segala proses akuntansi.

Seperti fitur Budget Management untuk menghitung perencanaan anggaran perusahaan, sehingga over budget bisa dicegah.

Selain itu, ada pula fitur Report & Analysis yang memungkinkan Anda untuk menyusun laporan keuangan perusahaan dengan cepat dan akurat. 

Jika menggunakan Software Akuntansi RedERP, seluruh proses akuntansi keuangan perusahaan akan dikelola dengan baik. Sehingga, tingkat akurasi hasil perhitungan akhir menjadi lebih tinggi.

Tertarik untuk mulai mencoba Software Akuntansi RedERP? Silakan menghubungi contact center di bawah ini untuk mendapatkan demo gratisnya.

Tags:
Share:
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
×

Hello!

Konsultasikan Kebutuhan ERP Disini atau Telp kami di +62812 111 42575

× Hubungi Kami